Wednesday, August 10, 2005

Allah SWT, Maha Tahu Atas Objek Yang Diketahui

Allah SWT, Maha Tahu Atas Objek Yang Diketahui
Alam tidak bisa lepas dari dua alternatif, pertama alam ada penciptanya, dan alam tidak ada penciptanya. Kalau alam ada penciptanya tentu Sang Pencipta tidak bisa terlepas dari dua alternatif, salah satunya bahwa Dia mesti tahu tentang Apa yang Dia ciptakan.
Orang-orang yang meyakini tentang Sang Pencipta telah bersepakat, bahwa Allah SWT adalah Mahatahu . Akan tetapi mereka berbeda pendapat tentang apa yang diketahui-Nya. Apakah Ilmu-Nya akan menambah-Nya ataukah tidak? Kesepakatan untuk menetapkan tentang Ilmu Allah sudah cukup, lalu kami ingin menambahkan keterangan, bahwa alam tidak bisa lepas dari dua alternatif: pertama, alam ada Penciptanya atau alternatif kedua, bahwa alam tidak ada Penciptanya. Kalau alam ini tidak ada Penciptanya, tentu apa yang telah kami sampaikan di muka tidak benar. Sementara kalau ada Penciptanya, tentu Sang Pencipta tersebut tidak bisa lepas dari dua altematif: Dia menciptakan, dan tahu atau tidak terhadap apa yang Dia ciptakan. Kalau dikatakan, bahwa Dia menciptakannya dan tidak tahu tentang apa yang Dia ciptakan, karena Dia terpaksa atau bodoh, tentu pernyataan demikian adalah tidak benar, sebab hal itu mustahil, sebagaimana yang telah kami jelaskan. Dengan demikian tinggal satu alternatif, yakni Dia mesti tahu tentang apa yang Dia ciptakan. Kalau dikatakan Dia Mahatahu , hanya saja Dia tahu secara global (totalitas) dan bukan secara parsial. Sebab kalau secara parsial akan mengakibatkan Ilmu-Nya huduts, akibat Dia harus mengetahui apa yang baru terjadi. Akan tetapi hal itu tidak benar, sebab huduts tidaklah berbeda-beda. Kalau pernyataan itu benar, tentu kalau ada sesuatu yang sangat kecil terwujud tanpa sepengetahuan-Nya tentu bisa saja terjadinya langit tanpa sepengetahuan-Nya juga.
Kalau dikatakan, "Kami bisa menerima, bahwa Sang Pencipta tidak akan menciptakan sesuatu kalau Dia tidak tahu tentang apa yang Dia ciptakan tersebut. Akan tetapi para malaikat yang diserahi tugas untuk mengurus hal tersebut mengetahui obyek yang diketahui secara mandiri. Dan inilah tingkat kemiripan sifat-sifat mereka dengan Sang Pencipta."
Kami jawab, bahwa hal itu sangat mustahil, sebab Sang Pencipta SWT menurut Anda hanyalah akal murni. Sementara akal murni yang bersih dari materi disyaratkan harus tidak bodoh terhadap obyek yang diketahui. Kebodohan yang terjadi pada manusia itu, karena ia dalam materi, sehingga karena disibukkan oleh suatu materi, ia pun tidak akan tahu terhadap yang lain.
Anda telah tahu, bahwa langit -menurut pendapat Anda - tahu tentang apa yang dapat diketahui secara parsial, lalu mengapa Anda tidak mengharuskan hal itu untuk Allah SWT sebagaimana menetapkannya untuk langit? Kalau mereka menjawab, "Karena hal itu akan mengakibatkan terjadinya sesuatu yang baru (huduts) pada Dzat Allah." Maka dari jawaban tersebut, kami dapat meluruskan, "Tidak harus demikian, sebab IImu-Nya adalah Qadim (Mahadahulu tanpa awal) .Dia mengetahui apa yang bakal terjadi dari berbagai formulasi dan transformasi alam sampai titik terakhir. Dan atas dalil Anda, dari sisi mengetahui berbagai sebab yang pertama tentu akan mengetahui sebab-sebab berikutnya dan seterusnya, karena orang yang tahu, tentu ia tahu apa penyebabnya. Sedangkan segala sesuatu yang terjadi tentu ada sebab musababnya, demikian seterusnya hingga titik akhir dari suatu rangkaian. Lalu sifat baru (huduts) dan perubahan (taghayyur) itu terjadi terhadap semua makhluk (hawadits). Sementara hal itu akan berlangsung sesuai dengan IImu-Nya, sehingga IImu-Nya adalah satu dan tidak berubah. Sedangkan perubahan yang terjadi itu hanya dari sisi, bahwa Dia tahu tentang perubahan tersebut, dan itu terjadi secara sistematis."
Kalau ada pertanyaan, "Apakah IImu-Nya akan menambah pada Dzat-Nya, ataukah IImu itu sendiri juga Dzat?"
Kami jawab, "Kelompok Mu'tazilah memang berpendapat, bahwa Dzat-Nya adalah IImu itu sendiri. Sementara kelompok Asy'ariyyah dan sebagian besar kelompok-kelompok yang lain berpendapat, bahwa IImu-Nya bukanlah Dzat-Nya. Sementara yang saya yakini adalah, bahwa Allah SWT Mahatahu, sedangkan dalil yang membuktikan Kemahatahuan-Nya sudah kami kemukakan sebelumnya Ini merupakan mukadimah dari mukadimah kedua Kalau sudah ditetapkan, bahwa Ilmu-Nya akan mengubah Dzat-Nya adalah mustahil, maka dengan demikian kita akan mengatakan, bahwa Ilmu itu tidak bisa lepas dari dua kemungkinan Ilmu-Nya adalah Dzat itu sendiri -sementara saya tidak berkeyakinan- seperti ini. Atau kemungkinan kedua, bahwa ilmu itu tambahan dari Dzat Dan inilah aliran (madzhab) yang Anda ikuti.
Kalau Ilmu-Nya itu tambahan dari Dzat, tentu tidak dapat lepas, dari tiga alternatif Ilmu itu lepas dan berdiri sendiri tanpa Dzat, atau Ilmu itu adalah sesuatu yang harus wujud (wajibul-wujud), atau Dzat itu menjadi syarat Ilmu. Kalau sekarang Ilmu itu lepas dari Dzat dan berdiri sendiri, dan itu merupakan sesuatu yang qadim, maka akan ada dua Tuhan, Yaitu Dzat dan Ilmu, sedangkan hal tersebut adalah mustahil.
Kalau ada pertanyaan, "Apakah Dzat merupakan persyaratan Ilmu?"
Maka kami jawab, "Kalau demikian, maka ia tidak bisa lepas dari dua kemungkinan. Ia sesuatu yang qadim atau ia sesuatu yang baru (huduts), Kalau ia qadim tentu tidak dapat dibenarkan bila sesuatu yang qadim menjadi syarat qadim yang lain. Kalau Ilmu itu sesuatu yang huduts, maka tidak bisa lepas dari dua altematif, ia berada pada Dzat Sang Pencipta atau pada yang lain Kalau Ilmu yang huduts berada pada Dzat Sang Pencipta, tentu pada Dzat-Nya terdapat sesuatu yang baru, dan ini tidak benar. Kalau Ilmu berada pada selain Dzat Sang Pencipta, berarti Ilmu itu bukan termasuk Sifat-sifat-Nya."
Kalau ditanya, "Ini berarti sama dengan aqidah kelompok Mu'tazilah?"
Saya jawab, "Kami dapat membedakan antara aqidah mereka dengan aqidah yang kami yakini. Dimana kami berkeyakinan, bahwa Allah SWT Maha Mengetahui, baik secara global maupun parsial, dan tidak boleh dikatakan, bahwa Ilmu-Nya adalah Dzat-Nya itu sendiri dan lain sebagainya. Sebab ketentuan untuk memberikan Nama kepada Sang Pencipta secara mutlak adalah cara yang ditempuh oleh syari'at, dan tidak ada ketentuan syari'at yang menunjukkan, bahwa Ilmu-Nya adalah tambahan dan merupakan sesuatu yang berdiri sendiri. Akan tetapi hal itu disebutkan secara mutlak. Sementara banyak alasan rasional yang menunjukkan, bahwa Allah SWT itu Maha Mengetahui. Dan tidak dapat dibenarkan bila Ilmu-Nya wujud secara qadim dan berdiri sendiri, tidak butuh kepada Sang Pencipta SWT. Demikian pula tidak dapat dibenarkan, bila Ilmu itu qadim tapi butuh syarat."

0 Comments:

Post a Comment

<< Home